Kontak Kegiatan Mahasiswa Program Kerja Pengumuman Berita Profil Beranda
logo bem

Sinergis - Positif - Aktif

BERITA [2019-08-17]
Pendidikan Karakter dan Hal-Hal yang Belum Selesai
15 April 2018       Cindy       Tips & Trik      
 
share to :

Mungkinkah kita berhasil mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah umum binaan pemerintah dewasa ini? Jawaban saya: mungkin bisa, tapi sulit.

Mungkin bisa, karena sejatinya pendidikan dan karakter memang satu-nyawa, tidak dapat dipisahkan. Pendidikan membentuk karakter sedangkan karakter memperkuat pendidikan. Inilah yang menjadikan pendidikan dan karakter itu penting untuk terus dievaluasi prosesnya dalam pembelajaran sehari-hari.

Akan tetapi, dalam praktiknya di lapangan, pendidikan karakter kerap kali menghadapi berbagai macam persoalan mulai dari yang bersifat teknis hingga pragmatis. Ini banyak terjadi di lembaga pendidikan formal binaan pemerintah mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Peristiwa pemukulan seorang siswa terhadap gurunya sendiri di Sampang Madura Jawa Timur Kamis (01/02/2018) lalu membuka fakta betapapun canggihnya kurikulum pendidikan karakter yang selama ini diajarkan di kelas, moral siswa masih belum tersentuh. Akibatnya kekerasan baik terhadap sesama maupun gurunya sendiri akan tetap terjadi. Bisa saja hal ini juga terjadi di daerah lain.
Dengan demikian dapat kita pahami bahwa sejatinya pendidikan karakter di Indonesia yang dijalankan di sekolah umum belum selesai. Ada banyak hambatan dalam implementasinya yang perlu didiskusikan bersama.
 

Pertama, dari pihak keluarga. Ruang lingkup pendidikan karakter pertama kali tentu harus ditanam melalui sebuah keluarga. Sebagai sekolah pertama bagi seorang anak, keluarga yang diperankan utamanya oleh kedua orang tua memiliki posisi sentral dalam mengintroduksi seorang anak kepada pendidikan karakter. Namun dalam praktiknya :
Kelompok bawah, mereka pada dasarnya tidak paham apa dan bagaimana pendidikan karakter ini. Mereka pun tidak ambil pusing untuk mengetahuinya. Ini terjadi karena kelompok bawah lebih mementingkan roda ekonomi keluarga yang belum mapan sehingga pendidikan karakter bagi anak mereka terlupakan. Dengan tipe keluarga seperti ini proses pengenalan pendidikan karakter dalam internal keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Berbeda dengan di atas, kelompok menengah memahami akan pentingnya pendidikan karakter bagi anak mereka. Kendati pun mereka masih berjuang untuk roda perekonomian keluarga, proses pendidikan karakter anak umumnya diserahkan kepada lembaga pendidikan formal (sekolah) dan non-formal (pesantren).

Kelompok atas adalah mereka yang memahami akan pentingnya pendidikan karakter bagi anak dan mengajarkannya mulai dari dalam internal keluarga sendiri serta memercayai lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal untuk mengenalkan lebih jauh terhadap pendidikan karakter.

Kedua, lingkungan. Jamak kita ketahui bahwa lingkungan berperan besar dalam pembentukan karakter seorang anak. Betapapun bagusnya sebuah keluarga dalam mengajarkan pendidikan karakter di rumah namun jika lingkungan anak tersebut tidak mendukung, sudah pasti proses ini akan gagal.

Ketiga, kurikulum dan pendidik. Dalam praktiknya di lapangan, pemerintah telah merevisi berkali-kali kurikulum nasional yang menekankan akan pentingnya nilai-nilai karakter diterapkan dalam pembelajaran. Beberapa di antaranya adalah kejujuran, religius, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, dsb. Langkah seperti ini masih terlihat belum optimal mengingat toleransi khususnya kepada yang berbeda keyakinan mulai menurun di kalangan pelajar sekolah menengah (survey the Wahid Institute, 2016).

 

Sumber :

CNN Indonesia ,
M. Faruq Ubaidillah, S.Pd
Penulis adalah aktivis pendidikan, sosial, dan agama.